Rabu, 10 November 2010

BELUM BISA MOTRET SAMPAI SEKARANG

Sudah hampir satu tahun belajar motret, sudah sekian banyak objek saya coba ambil sambil belajar memahami filosofi sendiri “See The GOD Thru The Lens”.

Sampailah pada satu kesimpulan, yakni saya melihat banyak sekali pemandangan yang bagus, baik itu landscape, orang, benda-benda, bangunan-bangunan dan sebagainya melalui mata saya.

Pada saat kamera saya angkat dan saya mulai membidik, di dalam fikiran saya hanya memikirkan bagaimana mengkomposisikan apa yang mata saya lihat indah agar bisa terlihat indah di dalam hasil foto. “Ckreek” shutter terbuka, pantulan cahaya telah memasuki lensa yang dijaga bukaan besar kecilnya oleh jendela diafragma, masuk terus lebih dalam dan ditangkap, diolah, dikomposisikan, diatur oleh sensor, prosesor DIGIC II atau DIGIC II dari kamera saya.

Sesaat saya tengok layer pada kamera… hasilnya… oh ya bagus…bagaiman kalau dicoba sekali lagi… oh ya bagus… (setidaknya menurut saya bagus)

Demikian hal seperti itu berlanjut terus sampai saat ini.

Foto demi foto sudah dikumpulkan, diedit, dipandang-pandang, diperlihatkan ke istri dan teman-teman, sekaligus meminta pandangan mereka. Banyak masukan telah diterima, baik kesalahan komposisi, momen atau foto yang cenderung emosional karena takut kehilangan momen dan sebagainya bahkan masalah teknis juga masih salah.

Semua masukan dijadikan sumber ilmu baik dari yang sudah ahli maupun yang awam sama sekali. Pandangan mereka sangat membantu saya sekali.

Kembali foto demi foto saya lihat, terutama foto yang dulu pernah saya ambil, foto tersebut ternyata tidak bisa mewakili apa yang saya lihat pada saat itu. Persaan, jiwa yang terpancar dari objek dan saya sendiri. Sampai akhirnya saya menulis diblog ini dengan sebuah pertanyaan akan kemampuan diri saya sendiri yaitu

Apakah yang menyebabkan berbedanya pandangan mata saya dan hasil foto saya, foto saya tidak bisa mewakili jiwa yang terpancar dari dalam diri dan jiwa yang terpancar dari objek foto yang saya ambil. Mengapa? Apakah karena mata saya ini berkolaborasi dengan fikiran dan perasaan serta ruh saya sendiri sedangkan kamera saya tidak, walaupun saya pelaku pemotretan itu, atau apakah saya masih terlalu bodoh dalam mengambil gambar.

Terima kasih

Febinursan Arief

Tidak ada komentar:

Posting Komentar